Kamis, 04 Oktober 2012

Nyanyian Baru

Lelaki kecil ini begitu indah
Saking indahnya, tak sudi aku mendendangkan lagu-lagu yang sudah ada
Untuknya, hanya ada nyanyian baru

Minggu, 30 September 2012

K E F A S

Namanya Kefas
Dia anakku
Suamiku yang menamakannya
Nama itu ada jauh sebelum ia ada

Kefas, anakku, lahir sempurna
Berat 3,7 kg
Panjang 49 cm
Cesar

Dia menyerupai aku, maminya
Awalnya aku mengelak
Kemudian aku mengaminkannya karena banyak orang mengatakannya
Matanya
Alisnya
Pipinya
Rambutnya
Semua
Apalagi hidungnya

Hanya satu yang paling tegas diambil dari suamiku, papinya
Dadanya
Dadanya 'melambung' naik
Kalau ikut istilah orang, Si Dada Burung

Padahal, sebelum ia lahir aku berdoa
Agar ia lebih menyerupai papinya
Mata yang dalam
Hidung yang mancung
Alis yang lumayan tebal
Rahang yang oval
Terutama, rambut yang lurus
Ya, aku ingin sekali rambutnya seperti papinya, lurus

--- Aku memang sedikit terobsesi dengan papinya. Wajahnya yang mungkin tidak ganteng menurut orang lain, bagiku sangat menarik. Makanya kupikir, akan lebih baik jika anak lelakiku menarik seperti papinya. Bukankah, 'menarik' bikin orang mudah tertarik ---

Penasaran, apa iya ia sebegitu miripnya denganku
Aku memandangi wajah kami di depan cermin
Teliti kuperhatikan
Ternyata tidak

Meski mata kami sama, pandangannya lebih menenangkan
Meski bibir kami serupa, senyumnya lebih meneduhkan
Meski rambut kami ikal, miliknya lebih bergelora

Sejak itu kupastikan
Hidupnya akan jauh lebih hidup dari hidupku
Seumpama burung, ia akan terbang lebih tinggi
Seumpama bunga, tiada yang menandingi kecantikannya
Seumpama bintang, terangnya lebih bercahaya

Namanya Kefas
Dan dengan bangga kukatakan
Ia anakku

Tiada yang Lebih Menyenangkan Daripada...

Punya anak itu menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Kedengarannya mungkin naif. Terlebih bagi orang-orang yang selama ini tahu benar sejauhmana tingkat kesabaranku.

Melihat sifatku ini, aku sebenarnya bukan kategori ibu yang mampu menghadapi anak seumuran Kefas, anakku. Misalnya saja, kala lelaki kecil ini rewel selama 3 jam dan tak mau tidur meski sudah kuteteki. Atau kala ia bangun setiap 5 menit sekali untuk menagih ASI-nya. Tapi, untuk ketidakberhasilan dari semua usaha baikku demi membuatnya nyaman, aku mau pantang menyerah. Jika gagal, justru aku malah mengutuki diriku. Menganggap diriku tak becus. Bukan Si Anak. Hahaha....

Sekali lagi kutegaskan, punya anak itu menyenangkan. Saking menyenangkannya, aku bisa tidak peduli dengan rasa lelah karena harus berulang kali mengangkat badannya yang kian hari kian berat dan menaruhnya di boksnya. Tak peduli dengan semua rasa pegal di setiap persendian dan otot usai berjaga-jaga puluhan malam. Juga rasa putus asa karena kehabisan nyanyian penuntun tidur ketika Si Kecil tak kunjung menutup matanya. Hahaha...

Oh iya, tadi sudah kukatakan, kan, kalau punya anak itu menyenangkan? Tanyalah, "mengapa demikian?" kepadaku.

Karena, matanya yang teduh mampu membuatku berjanji takkan menyia-nyiakan hidup ini. Senyumannya yang manis selalu mampu menyadarkanku kalau Tuhan itu sangat murah hati. Lengkingan suara tangisnya mengingatkanku kalau hidupku hanyalah sementara. Dengan adanya anak ini, aku menjadi seseorang yang lebih baik. Jadi, untukku, tidak ada perasaan lain selain rasa menyenangkan dengan kehadiran seorang anak. Hahaha...

Rabu, 02 Mei 2012

Hujan

Menulis kejadian ini dalam hujan
Aku di sebuah gazebo pinggir kolam renang
Menyantap kentang goreng

Sedikit pikiranku terbang ke masa di mana aku masih 'mengejarmu', Bu Endang.
Sedikit memikirkan,
kira-kira apa yang akan terjadi dengan janinku setelah kulahap semua kentang berbumbu vetsin ini.
Sisanya,
hanya mampu membayangkan wajah suami yang sedang asik-masyuk merasakan kehangatan sauna.

Hingga tiga puluh menit ke depan,
kurasa aku masih akan berada di sini,
di sebuah gazebo pinggir kolam renang,
menulis kejadian ini dalam hujan. ....... ....... .......

Selasa, 24 April 2012

D, I, E, T.

Setelah melakukan penelusuran lebih lanjut, aku sampai pada kesimpulan bahwa bobot janinku memang terlalu besar.

Coba aja baca link ini:
http://anmum.com.my/id/main.aspx?sid=930

Fakta kalau janinku jauh lebih besar dari seharusnya sudah dinyatakan di kalimat awal artikel tersebut.
"Berat tubuh janin 'mungkin' sudah sekitar 340 gram sekarang (untuk janin berusia 20 minggu)." Well, berat Si Ke' terakhir kali aku bawa dia ke rumah sakit, Senin (16/4), sudah lebih dari 550 gram.

Fakta kedua -yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan- adalah, "
... dan bobot tubuh Anda akan bertambah sekitar 4,5 kg." Taraaa! Beratku -dalam kurun waktu 5 bulan ini- sudah naik 7 kg aja gituh.

Yup, sekarang aku mengerti mengapa setiap orang yang bertanya, "Berapa bulan usia kandunganmu saat ini, Ter," terhenyak kaget dengan jawabanku.

"Hah, serius 5 bulan?! Tapi, kok, gede banget, kayak udah 7 bulan ajah," demikian rata-rata isi komentar mereka kemudian.

Hehehe... Oke deh, Ke'. Kayaknya, sudah saatnya Mami diet. D, I, E, T. Mulai besok Mami janji enggak akan lagi mampir ke Muffin House kalo enggak kepepet banget. Mami bakal kurangin minum es teh manis atau teh manis hangat. Plus, tolak cemal-cemil di sore hari.

Ini semua demi kamu bisa lahir NORMAL, mal, mal!

Senin, 23 April 2012

1, 2, 3, 4, 5....

Usia Ke' dalam kandungan saat ini genap 5 bulan. Lantas bagaimana perasaanku? Yang pasti senang, dong.

Jujur, badanku makin hari makin mudah capek. Jalan 10 meter atau naik 10 anak tangga aja udah bisa bikin napas ngos-ngosan. Dikit-dikit istirahat atau paling enggak kecepatan gerakan harus dibatasi. Lantas bagaimana perasaanku? Ya, tetap senang, dong.

Setiap kali ada yang enggak berkenan di hati, bawaannya mau 'ngamuk' aja. Kadang, ucapanku secara enggak sengaja juga membuat orang lain tersinggung. Padahal enggak ada maksud mau kasar, lho. Maklum aja, bawaan hormon kali, yaaaa.... Lantas bagaimana perasaanku mengenai hal ini? Ya, apalagi kalau tetap dibawa senang, dong. Hahahaha....

Kata suamiku, MENGANDUNG itu merupakan anugerah bagi perempuan. Mengingat zaman sekarang, sangat sulit bagi kaum hawa memiliki anak. Oleh karenanya, enggak ada alasan bagiku untuk tidak merasa senang dan mengucap syukur buat Ke'.

:D

Minggu, 22 April 2012

'Selangkangan' Keke

"Feeling saya, sih, laki-laki," kata Dokter Lukman.

Jeglek! Ibarat meteran listrik yang mati tiba-tiba, kami -aku dan suami- lumayan kaget juga dengernya. Muka suami juga mendadak lemes. Hehehe.... Secara suami kepengen banget punya anak cewe, kaaaan......

Senin lalu, aku ditemani suami konsultasi kandungan di Siloam Hospital Kebon Jeruk. Selain mau liat Keke (panggilan Si Baby) dari deket, kami juga mau tahu kelaminnya. Maklum, usia kandungan, kan, sudah masuk 19 minggu. Biasanya, sih, di usia segitu jenis kelamin bayi sudah bisa kelihatan. Katanya, loooh....

Tapi ya, semua memang enggak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Kaki Si Keke ketekuk ketat ke perutnya. Alhasil, alat USG enggak berhasil kasih lihat 'selangkagan', tuh, anak. Hehehehe.... Makanya iseng-iseng aku tanya dokter, "Menurut feeling dokter kelamin anak saya apa?"

Apapun jenis kelaminnya, disyukuri aja, ya. Yang penting sehat. Eniway busway, berat anakku sudah hampir 600 gram, detak jantungnya bagus, dan gerakannya edaaaan, aktif banget! Puji Tuhan, yaaa.....