Punya anak itu menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Kedengarannya mungkin naif. Terlebih bagi orang-orang yang selama ini tahu benar sejauhmana tingkat kesabaranku.
Melihat sifatku ini, aku sebenarnya bukan kategori ibu yang mampu menghadapi anak seumuran Kefas, anakku. Misalnya saja, kala lelaki kecil ini rewel selama 3 jam dan tak mau tidur meski sudah kuteteki. Atau kala ia bangun setiap 5 menit sekali untuk menagih ASI-nya. Tapi, untuk ketidakberhasilan dari semua usaha baikku demi membuatnya nyaman, aku mau pantang menyerah. Jika gagal, justru aku malah mengutuki diriku. Menganggap diriku tak becus. Bukan Si Anak. Hahaha....
Sekali lagi kutegaskan, punya anak itu menyenangkan. Saking menyenangkannya, aku bisa tidak peduli dengan rasa lelah karena harus berulang kali mengangkat badannya yang kian hari kian berat dan menaruhnya di boksnya. Tak peduli dengan semua rasa pegal di setiap persendian dan otot usai berjaga-jaga puluhan malam. Juga rasa putus asa karena kehabisan nyanyian penuntun tidur ketika Si Kecil tak kunjung menutup matanya. Hahaha...
Oh iya, tadi sudah kukatakan, kan, kalau punya anak itu menyenangkan? Tanyalah, "mengapa demikian?" kepadaku.
Karena, matanya yang teduh mampu membuatku berjanji takkan menyia-nyiakan hidup ini. Senyumannya yang manis selalu mampu menyadarkanku kalau Tuhan itu sangat murah hati. Lengkingan suara tangisnya mengingatkanku kalau hidupku hanyalah sementara. Dengan adanya anak ini, aku menjadi seseorang yang lebih baik. Jadi, untukku, tidak ada perasaan lain selain rasa menyenangkan dengan kehadiran seorang anak. Hahaha...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar