Minggu, 30 September 2012

K E F A S

Namanya Kefas
Dia anakku
Suamiku yang menamakannya
Nama itu ada jauh sebelum ia ada

Kefas, anakku, lahir sempurna
Berat 3,7 kg
Panjang 49 cm
Cesar

Dia menyerupai aku, maminya
Awalnya aku mengelak
Kemudian aku mengaminkannya karena banyak orang mengatakannya
Matanya
Alisnya
Pipinya
Rambutnya
Semua
Apalagi hidungnya

Hanya satu yang paling tegas diambil dari suamiku, papinya
Dadanya
Dadanya 'melambung' naik
Kalau ikut istilah orang, Si Dada Burung

Padahal, sebelum ia lahir aku berdoa
Agar ia lebih menyerupai papinya
Mata yang dalam
Hidung yang mancung
Alis yang lumayan tebal
Rahang yang oval
Terutama, rambut yang lurus
Ya, aku ingin sekali rambutnya seperti papinya, lurus

--- Aku memang sedikit terobsesi dengan papinya. Wajahnya yang mungkin tidak ganteng menurut orang lain, bagiku sangat menarik. Makanya kupikir, akan lebih baik jika anak lelakiku menarik seperti papinya. Bukankah, 'menarik' bikin orang mudah tertarik ---

Penasaran, apa iya ia sebegitu miripnya denganku
Aku memandangi wajah kami di depan cermin
Teliti kuperhatikan
Ternyata tidak

Meski mata kami sama, pandangannya lebih menenangkan
Meski bibir kami serupa, senyumnya lebih meneduhkan
Meski rambut kami ikal, miliknya lebih bergelora

Sejak itu kupastikan
Hidupnya akan jauh lebih hidup dari hidupku
Seumpama burung, ia akan terbang lebih tinggi
Seumpama bunga, tiada yang menandingi kecantikannya
Seumpama bintang, terangnya lebih bercahaya

Namanya Kefas
Dan dengan bangga kukatakan
Ia anakku

Tiada yang Lebih Menyenangkan Daripada...

Punya anak itu menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Kedengarannya mungkin naif. Terlebih bagi orang-orang yang selama ini tahu benar sejauhmana tingkat kesabaranku.

Melihat sifatku ini, aku sebenarnya bukan kategori ibu yang mampu menghadapi anak seumuran Kefas, anakku. Misalnya saja, kala lelaki kecil ini rewel selama 3 jam dan tak mau tidur meski sudah kuteteki. Atau kala ia bangun setiap 5 menit sekali untuk menagih ASI-nya. Tapi, untuk ketidakberhasilan dari semua usaha baikku demi membuatnya nyaman, aku mau pantang menyerah. Jika gagal, justru aku malah mengutuki diriku. Menganggap diriku tak becus. Bukan Si Anak. Hahaha....

Sekali lagi kutegaskan, punya anak itu menyenangkan. Saking menyenangkannya, aku bisa tidak peduli dengan rasa lelah karena harus berulang kali mengangkat badannya yang kian hari kian berat dan menaruhnya di boksnya. Tak peduli dengan semua rasa pegal di setiap persendian dan otot usai berjaga-jaga puluhan malam. Juga rasa putus asa karena kehabisan nyanyian penuntun tidur ketika Si Kecil tak kunjung menutup matanya. Hahaha...

Oh iya, tadi sudah kukatakan, kan, kalau punya anak itu menyenangkan? Tanyalah, "mengapa demikian?" kepadaku.

Karena, matanya yang teduh mampu membuatku berjanji takkan menyia-nyiakan hidup ini. Senyumannya yang manis selalu mampu menyadarkanku kalau Tuhan itu sangat murah hati. Lengkingan suara tangisnya mengingatkanku kalau hidupku hanyalah sementara. Dengan adanya anak ini, aku menjadi seseorang yang lebih baik. Jadi, untukku, tidak ada perasaan lain selain rasa menyenangkan dengan kehadiran seorang anak. Hahaha...